Selamat Datang

Kuucapkan terimakasih untuk teman teman yang mengiklhaskan sedikt waktunya untuk menengok karya poetra PETA....

Monumen POTLOT

Kamis, 10 November 2011

              Wihhhhhhhh,,,,,,,,,,ternyata Pemuda Blitar sangat pemberani di masa pendudukan Jepang.
pada masa pendudukan Jepang para pemuda Blitar yang tergabung dalam Tentara PETA di bawah pimpinan Shudancho Suprijadi melakukan pemberontakan terhadap Jepang pada tanggal 14 Februari 1945. di katakan sangat pemberani karena Tentara PETA ini merupakan tentara bentukan Jepang akan tetapi malah menyerang Jepang sendiri,,,,,,wiiiiihhhh,,,,,,Fantastik,,,,,,!!!!!!! 









Monumen POTLOT
        Monumen POTLOT inilah bukti keberanian pemuda pemuda yang tergabung dalam Tentara PETA Blitar. Monumen ini terletak di kawasan Taman Makam Pahlawan Raden Wijaya Kota Blitar, lebih tepatnya di belakang  makam pahlawan tersebut. Monumen POTLOT selain sebagai saksi keberanian para pemuda blitar juga termasuk tempat pertamakali dikibarkanya bendera Sangsaka Merah Putih pada tanggal 14 Februari 1945. pengibaran ini terjadi pada peristiwa pemberontakan Tentara PETA terhadap Jepang yang di pimpin Shudancho Suprijadi sekitar pukul 03.00 wib, dini hari. seorang algojo berani nekat mengibarkan Sangsaka Merah Putih tersebut adalah Parto Hardjono.

Prasasti Monumen POTLOT
      Monument Potlot yang merupakan bukti dari sejarah perjuangan pemberontakan Tentara PETA Daidan blitar terhadap tentara Jepang tersebut di resmikan pada tahun 1946 oleh TNI jendral Soedirman. Prasasti tersebut terukir dengan bahasa ejakan lama dan bertuliskan tentang pengesahan monument Potlot sebagai monument perjuangan Tentara PETA Daidan Bitar di bawah pimpinan Sudancho Soepriadi.
Peristiwa pada masa peresmian Monument Potlot atau monument perjuangan tentara Peta di Kota Blitar pada tahun 1946 satu tahun setelah Indonesia merdeka. Peresmian tersebut langsung di resmikan oleh bapak TNI Jendral Soedirman. Terlihat Jendral Soedirman meletakan serangkaian bunga untuk menandakan monument telah di resmikan sebagai monument perjuanagan nasional. Suasana pada saat itu sangat ramai seperti yang terlihat pada gambar. Tidak hanya Jendral Soedirman, banyak dari tentara tentara, polisi polisi, serta pegawai pegawai negeri sipil yang ada di Indonesia ikut menghadiri upacara peresmian Monumen Potlot tersebut. Selain itu banyak warga Kota Blitar yang juga antusias menyaksikan peristiwa penting tersebut serta melakukan renungan untuk para pahlawan Indonesia. 
Syair Chairil Anwar
  Selain bentuk monument yang unik dan sangat penting bagi sejarah perjuangan Tentara PETA daidan Blitar, pada lokasi monument tersebut terdapat syair  Chairil Anwar yang di ciptakan untuk para pejuang pejuang bumi Indonesia khususnya pejuang dari kota patria yaitu kota Blitar.
Syair Chairil Anwar tersebut berisi atau bermakna tentang para pejuang yang sudah wafat. Isi dari syair tersebut seolah olah menggambarkan tentang ungkapan hati sanubari para pahlawan kepada generasi generasi seterusnya. Mereka ingin para generasi penerusnya melanjutkan perjuangan mereka untuk tanah air tercinta yaitu Indonesia. Serta penggambaran tentang keinginan para pejuang agar generasi penerusnya terus mengingat perjuangan mereka.
Renungan Suci
 
  Pada monument Potlot tersebut juga terdapat renungan yang terukir dalam batu marmer dengan bahasa yang indah dan makna yang sangat dalam, membuktikan bahwa masih ada  beberapa generasi muda yang tidak memandang sebelah mata akan pentingnya sejarah.
Veteran Tentara PETA
Mbah Tukirin yang berumur 90 tahun beserta seorang bidadari hatinya sebagai pendamping untuk menjalani petualangan hidupnya sebagai seorang pejuang Republik Indonesia. Salah satu Veteran Tentara PETA daidan Blitar saat saya temui di kediamanya, di desa Mbendo, Srengat, Kabupaten Blitar.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Wisata ke Zaman Kolonial (Noztalgia)

Sabtu, 05 November 2011

Wisata ke zaman Kolonial belanda ,,,,wuih,,,,,aseeeek.........

Kediri salah satu kota yang dulunya merupakan tempat para orang pirang (Belanda) menjalankan suatu usaha menumbuhkan dan mengembangkan ekonomi, hal ini sangat baik kan tetapi disisi lain mereka bisa di katakan para penjajah karena tempat yang mereka gunakan dan orang orang yang dipekerjakan bukanlah hak meeka.

ah,,,,kalau judulnya wisata dan yang di bahas soal penjajahan g seruuuuuuu dong,,,,
masa lalu biarlah berlalu cukup di jadikan pengalaman untuk kedepanya agar lebih baik,,,,
saatnya kita mengambil hikmah dari penjajahan tersebut,,,salah satunya dengan wiasta ,,heheheh







Sebenarnya aku tak tahu apakah nama bangunan ini dan di buat apa fungsinya serta kapan bangunan ini di buat karena tidak ada tahun yang terukir dalam bangunan tersebut. bangunan ini terletak di Kabupaten Kediri lebih tepatnya di desa plosoklaten, di desa tersebut terdapat bangunan yang berdiri kokoh dan berisikan air yang sangat jernih didalamnya. Tak tau apa namanya tapi saya menyebutnya dengan Tanadon Air Masa Kolonial mengapa demikian karena dalam bangunan tersebut terdapat sumber air yang sangat jernih sampai saat ini masih mengalir dengan deras. mengenai fungsinya  kalau saya analisis bangunan ini merupakan bagunan sebagai tandon sumber aiar yang di gunakan untuk mengairi daerah sawah atau perkebunan di masa kolonial, mengingat di sekitar bangunan tersebut ada banyak persawahan dan perkebunan, serta adanya Pabrik nanas (sekarang PTPN DJENGKOL) di bawah pemerintahan Belanda.




Terlihat dari samping kiri ada semacam gerojokan air yang sangat jernih dari dalam bangunan tersebut. saya bisa mengatakan dari dalam bangunan tersebut karena disekeliling bangunan yang berdiri sangat kokoh tersebut tidak ada sumber air atau semacam aliran sungai. menurut masyarakat di sekita gerojokan yang ada di samping tersebut merupakan jatah dari kaum lelaki, sedangkan sumber kecil yang ada di belakang bagunan itu ya masih sangat berdekatan merupakan jatah dari kaum wanita. maksutnya jatah tersebut adalah tempat pengambilan air ada dua bagian yang di samping untuk laki laki yang dibelakang untuk perempuan. akan tetapi hal tersebut berlaku di masa sekarang ini bukan pada masa kolonial tersebut. menurut saya pembagian tersebut bertujuan agar tidak ada perebutan dan menjaga kerukunan serta membudayakan antri hehehehheheh.......





Area belakang bagunan kolonial tersebut, terdapat pintu yang sangat tebat dan kuat terbuat dari baja mungkin heheheh,,,saya gak tau perbedaan baja atau besi tapi yang jelas ketebalan pitu tersebut kurang lebih 10 cm.
       
Dari tadi saya menyebutnya bagunan kolonial mungkin teman teman bertanya tanya benarkah itu,,,,,,,????? okee,,, sedikit saya interpretasikan mengapa saya menyebutnya bangunan kolonial, pertama dilihat dari bagunanya yang mencirikan infrastruktur bangunan belanda, serta adanya informasi dari masyarakat sekitar bangunan tersebut mengatakan bahwa bangunan tersebut adalah bangunan di masa Kolonial. Inilah sedikit my adventure wisata ke zaman kolonial belanda,,,,,,tunggu selanjutnya ,,,,,ikiti terus teman petualnganku,,,,,

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer